Peluang Ekspor Agribisnis – Manggis


MANGGIS

Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara. Tumbuh hingga mencapai 7 sampai 25 meter. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah. Buah manggis dalam perdagangan dikenal sebagai “ratu buah”, sebagai pasangan durian, si “raja buah”. Buah ini mengandung mempunyai aktivitasantiinflamasi dan antioksidan. Sehingga di luar negeri buah manggis dikenal sebagai buah yang memiliki kadar antioksidan tertinggi di dunia.

Manggis berkerabat dengan kokamasam kandis dan asam gelugur, rempah bumbu dapur dari tradisi boga India dan Sumatera.

STANDAR MUTU

  1. Persyaratan mutu buah untuk tujuan ekspor adalah buah harus tetap segar, sepal berwarna hijua segar, jumlah sepal lengkap, warna kulit buah hijau kemerahan hingga merah ungu, tangkai buah berwarna hijau segar dan kulit buah mulus tidak cacat, baik cacat mikrobiologis maupun caat mekanis seperti burik dan tidak bergetah.
  2. Standar ukuran buah segar untuk tujuan ekspor adalah Kelas Super A harus berjumlah 6-8 buah/kg, kelas AA berjumlah 10-13 buaa/kg, dan kelas AAA berjumlah 14-15 buah/kg. Di Indonesia standar mutu buah manggis dapat mengcu kepada SNI (Tabel 1). Untuk perdagangan internasional standar mutu buah mengacu kepada Standar Codex Stan 204-1997 yang tertera pada Tabel 2.

Tabel 1. Standar Mutu Buah Manggis Menurut SNI

Jenis Uji

Persyaratan Mutu Buah Manggis Segar

Mutu Super

Mutu I

Mutu II

Keseragaman Seragam Seragam Seragam
Diameter > 65 mm 55- 65 mm < 55 mm
Tingkat Kesegaran Segar Segar Segar
Warna Kulit Buah HIjau Kemerahan sampai muda mengkilat Hijau kemerahan sampai merah muda mengkilat Hijau kemerahan
Buah yang cacat atau busuk 0 0 0
Tangkai atau kelopak Utuh Utuh Utuh
Kadar Kotoran (b/b) 0 0 0
Serangan yang hidup atau matu TIdak Ada Tidak Ada Tidak Ada
Warna Daging Buah segar Putih bersih khas manggis Putih bersih khas manggis Putih bersih khas manggis


Tabel 2. Standar Codex STAN 204-1997 Untuk Buah Manggis

Kode Ukuran

Bobot (Gram)

Diameter (mm)

A

30-50

38-45

B

51-75

46-52

C

76-100

53-58

D

101-125

59-62

E

>125

> 62

 Berdasarkan Standar Codex Stand 204-1997, kriteria mutu buah manggis untuk pasar internasional adalah sebagai berikut : 

Tabel 3. Ukuran Buah Manggis Berdasarkan Berat dan Diameter

Ukuran

Berat (gram)

Diameter (mm)

A

30-50

38-45

B

51-75

46-52

C

76-100

53-58

D

101-125

59-62

E

>125

> 62

 

a. Syarat Minimum

  1. Utuh
  2. Sepal harus lengkap dan segar
  3. Penampakan buah segar, bentuk buah, warna dan rasa buah sesuai varietas
  4. Keadaan baik, tidak busuk/rusak, layak konsumsi
  5. Bersih bebas dari benda asing
  6. Bebas dari segala bentuk kontaminasi pestisida dan benda asing lainnya
  7. Bebas dari penyakit getah kuning
  8. Bebas dari kelembaban lura tidak normal, suhu udara ekstrim keluar dari cold storage
  9. Bebas dari kerusakan yang disebabkan oleh hama dan penyakit
  10. Bebas dari bau dan rasa asing
  11. Buah bebas dari cacat
  12. Setelah dibuka, daging buah tampak normal.

b. Pengkelasan Manggis

  1. Kelas Ekstra
    Manggis pada kelas ini harus bermutu Super. Penampilan luar harus berkarakter sesuai varietas dan/atau tipe komersial. Buah harus bebas dari kerusakan tanpa pengecualian, kerusakan sangat sedikit, tidak berpengaruh dari penampakan produksi dan mutu buah didalam kemasan.
  2. Kelas I
    Manggis pada kelas ini harus bermutu baik. Penampilan luar harus berkarakter sesuai varietas dan/atau tipe komersial. Kerusakan akibat kelalaian diperbolehkan asal tidak berpengaruh dari penampakan produksi dan mutu buah didalam kemasan; kerusakan bentuk sedikit, kerusakan kulit dan kelopak seperti memar, goresan atau kerusakan mekanis lainnya sedikit. Total kerusakan tidak lebih dari 10%.

 c. Persyaratan Ukuran

Ukuran buah ditentukan dari berat atau diameter melintang buah. Ukuran buah manggis berdasarkan bentuk dan diameter tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Ukuran Buah Manggis Berdasarkan Berat dan Diameter

Ukuran

Berat (gram)

Diameter (mm)

A

30-50

38-45

B

51-75

46-52

C

76-100

53-58

D

101-125

59-62

E

>125

> 62

 

_______________________________________________________________________________________
 
Persyaratan Izin Export Manggis
1, Akta pendirian perusahaan berbadan hukum.
2, Akta pabean untuk export & import Hortikultura
3, Merek Kemasan yang dijual harus terdaftar di Haki dan registrasi merek di China.
4, Registrasi kebun.
5, Rumah kemas ( Packaging House)yang bebas organisme penyakit tumbuhan
6, Sertifikat verifikasi dari pihak karantina China.
Sumber: perizinanindonesia.com

Bagaimana Menjadi Eksportir Produk Furniture

 

 

Saya berencana untuk mengekspor produk furniture. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Persyaratan proses perizinan pasar ekspor untuk furniture apa saja dan di mana mengurusnya?
  2. Bisa dijelaskan apa saja kriteria produk furniture yang lolos ekspor?
  3. Jenis furniture dari bahan apa yang saat ini disukai pasar luar negeri?
  4. Berapa besar biaya untuk mengurus ekspor dan bisa dijelaskan tahapan apa yang harus saya lakukan?
  5. Bagaimana cara mencari buyer yang tepat?
  6. Apa saja kendala yang dihadapi pada ekspor produk furniture?

Untuk mengekspor produk furniture, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut jawaban atas pertanyaan Anda:

  1. Yang pasti usaha harus memiliki badan hukum resmi dan lengkap yang disesuaikan dengan jenis usaha dan kapasitas. Perlu ditetapkan apakah jenis usaha hanya akan memproduksi atau mengekspor saja, atau bahkan kedua-duanya. Lengkap : Dalam hal ini meliputi semua dokumen yang dipersyaratkan oleh keberadaan sebuah badan hukum resmi seperti Akte Perusahaan, SIUP, NPWP, Keterangan Domisili, AMDAL/IPAL (untuk izin limbah pada kegiatan produksi), Sertifikat K3 (untuk izin kegiatan karyawan lebih dari 25 orang) serta dokumen lain yang mendukung berdirinya dan berjalannya sebuah aktivitas usaha. Untuk kegiatan ekspor khususnya produk furniture, badan usaha tersebut wajib memiliki kelengkapan perizinan antara lain :
  • ETPIK: Eksportir Terdaftar Produk Industri Kayu dari Kemendag
  • ETR: Eksportir Terdaftar Produk Rotan dari Kemendag
  • NIK: No Induk Kepabeanan dari Bea Cukai
  • SVLK: Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu dari Kemenhut
  • Semua merupakan persyaratan untuk bisa secara resmi menjadi eksportir produk furniture dari Indonesia ke pasar ekspor.

Sedangkan persyaratan yang diperlukan di pasar ekspor sangat tergantung kemana (lokasi/negara) dan dengan cara bagaimana (melalui agent/trader/whole buyer) produk furniture tersebut diekspor, karena persyaratan yang perlu dipenuhi akan mengikuti proses yang dipersyaratkan oleh pihak pemesan/pemberi order.

2. Persyaratan / kriteria produk furniture yang bisa lolos untuk pasar ekspor lebih bersifat normatif pada kualitas dari produk itu sendiri seperti:

  • Bentuk seragam dan presisi dengan toleransi 0,2% dari ukuran standar sampel yang sudah disetujui pemberi order.
  • Penggunaan bahan sesuai spesifikasi dengan kualitas 1.
  • Persyaratan kekeringan (Moisture Content) dari bahan kayu antara 8 – 12 %
  • Lulus uji konstruksi dengan sertifikat dari lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemesan atau disepakati bersama antara importir dan eksportir.
  • Jenis bahan baku bukan dari spesies kayu yang dilarang atau dilindungi.
  • Bahan baku kayu bersertifikat seperti SVLK (Wajib dari Indonesia), FSC, dll.
  • Menggunakan bahan finishingyang ramah lingkungan (Green Label)

Dalam hal tersebut tidak dapat ditutupi terhadap peranan desain produk furniture yang sangat erat kaitannya dengan selera pasar ekspor, karena pada desain tidak bisa dibicarakan secara normatif semata.

3. Mengenai jenis furniture yang disukai pasar ekspor, maka pembicaraan sudah masuk ke ranah desain, di mana selera konsumen menjadi sangat dominan. Kalau bicara tentang furniture yang diminati dari Indonesia, pasar ekspor sudah mengerti bahwa Indonesia merupakan negara tropis sehingga produk furniture dari bahan dasar alami (natural) di daerah tropis seperti kayu, rotan, bambu dan lain sebagainya banyak dicari dari Indonesia untuk konsumsi pasar ekspor. Bahan dasar alam dibentuk secara alami oleh alam itu sendiri, sehingga berbeda dengan bahan dasar olahan seperti plywood, particle board, MDF, panel plastik, besi, dll yang bisa dibuat berdasarkan standar tertentu. Bentuk proses pekerjaannya juga sangat berbeda, karena material alami tidak mudah masuk (laibility) pada koridor industri besar yang bersifat “Mash Production” (Manufacturing). Jenis bahan alami disukai karena keunikan warna, serat kayu, maupun bentuknya, sehingga pasar ekspor sudah mengenal beberapa jenis kayu dari Indonesia yang sangat diminati seperti Kayu Jati, Mahoni, Merbau dan juga kayu lain seperti Sungkai, Ramin, Abasia, dan bahkan saat ini juga banyak dicari furniture dari kayu Mangga, Durian, Lengkeng, dll.

Bahan lain untuk furniture yang disukai adalah rotan, dimana dahulu Indonesia sangat kaya dan melimpah dengan spesies rotan. Bahkan Indonesia merupakan eksportir rotan terbesar di dunia, hanya saja industri di Indonesia belum banyak bisa mengolahnya menjadi produk jadi yang menarik desainnya dan mempunyai nilai tambah yang berarti. Sejalan dengan kebijakan pelarangan ekspor bahan baku rotan, justru pesaing Indonesia dalam membuat produk jadi rotan seperti Vietnam, Kamboja dan Myanmar sudah memiliki tanaman rotan hasil budidayanya sendiri.

4. Besaran biaya tergantung jasa pengiriman (Forwarder) yang mau digunakan, karena ekspor sangat tergantung dengan volume barang yang mau dikirim dan untuk furniture biasanya akan menggunakan peti kemas, jadi forwarder akan mengetahui, barang anda akan dikirim dalam satu peti kemas secara penuh (sendiri) atau juga akan dititipkan/disisipkan dengan barang milik pihak lain untuk menuju pada tujuan yang sama.

Syarat-syarat Kelengkapan Dokumen dan Prosedur Ekspor:

Proses “customs clearance” untuk pengurusan keberangkatan barang-barang ekspor secara umum memerlukan beberapa dokumen dari perusahaan eksportir sebagai berikut :

  • Surat Ijin Usaha Perusahaan ( SIUP )
  • Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP )
  • Invoice / Packing List Barang Ekspor

Prosedur Ekspor:

Setelah memenuhi persyaratan tersebut diatas, maka untuk melaksanakan ekspor dengan cara pembayaran menggunakan Letter of Credit (L/C) prosedurnya sebagai berikut:

  1. Eksportir mengadakan korespondensi dengan importir di luar negeri sampai mendapatkan kecocokan harga mutu, desain, pengiriman dan akhirnya terjadi kontak jual beli.
  2. Importir menghubungi Bank pembuka untuk membuka L/C yang ditujukan kepada eksportir.
  3. Bank pembuka meneruskan L/C kepada bank koresponden di tempat eksportir.
  4. Bank koresponden meneruskan L/C kepada eksportir.
  5. Eksportir menyiapkan barang yang dipesan importir. (Eksportir menghubungi Independen Surveyor untuk mengatur pemeriksaan barang ) Jika diperlukan
  6. Eksportir atau melalui jasa PPJK (Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan) memuat barangnya ke kapal atau pesawat terbang untuk mendapat bill of lading (B/L) atau Air Waybill (AWB) sebagai bukti kepemilikan barang yang telah dimuat dalam kapal atau pesawat terbang.
  7. Eksportir mendapatkan pemberitahuan ekspor barang ke Bank koresponden dengan melengkapi persyaratan yang ditetapkan.
  8. Eksportir atau melalui PPJK EMKL/EMKU (Ekspedisi Muatan Kapal Laut/ Udara) meminta persetujuan muat barang (Flat Muat) kepada Bea Cukai
  9. Eksportir atau melalui jasa PPJK mengajukan permohonan untuk mendapatkan SKA (Surat Keterangan Asal) ke kantor wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan atau kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat apabila diperlukan.
  10. Bank koresponden menegosiasikan (membeli) wesel yang diajukan ekportir, setelah meneliti kebenaran dokumen yang diajukan eksportir.
  11. Selanjutnya dokumen-dokumen pengapalan dikirimkan oleh bank koresponden kepada bank pembuka untuk mendapat ganti pembayaran (reimbursement)
  12. Bank pembuka memeriksa dokumen-dokumen tersebut apakah sesuai dengan
  13. Importir membayar atau meminta bank pembuka untuk mendebet rekeningnya pada bank tersebut
  14. Setelah importir membayar dokumen-dokumen tersebut, maka bank pembuka menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada importir untuk pengeluaran barang dari pabean.
  1. Produsen (Eksportir) dan Buyer (Importir) keduanya bagai mencari pasangan hidup. Harus pas dan saling mengerti “Produk apa yang bisa/sanggup dibuat oleh Eksportir” dan “Produk apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Importir”.

Jadi kalau mencari buyer yang tepat adalah perlu saling berkenalan dan saling terbuka terhadap situasi dan kondisi masing-masing. Jangan sekali-kali menjalankan motto “PALUGADA” (Apa Elu mau Gua Ada) hanya karena kita Rindu Order semata, karena nantinya kita akan terjebak pada situasi sulit jika kita memaksakan diri.

Buyer yang tepat adalah pihak yang sangat mengetahui kemampuan diri dan kapasitas kita sehingga dia tidak menjebak kita masuk pada situasi sulit yang pada akhirnya semua permainan ada pada kendali mereka.

Tawarkan apa yang bisa kita produksi dengan apa adanya, dan jika buyer merespon dengan positif, mereka akan bertindak “fair”.

Berkenalan, bertemu dan berdialog pada ajang seperti pameran, bussines matching, atau program misi dagang dari pemerintah sangat membantu sebagai titik awal, tetapi setelah itu lebih cermat dengan terus membina komunikasi yang intensif agar kita dapat dipercaya dan dianggap serius.

  1. Kalau sudah ketemu jodohnya, rasanya kendala tidak ada, karena bisnis adalah kepercayaan (yang sulit menjaganya). Kendala justru adalah regulasi, peraturan, persyaratan yang ada di pihak Indonesia yang rasanya belum terlalu mendukung pelaku bisni khususnya mereka yang mau bermain di pasar ekspor. Dari pengurusan ijin dan dokumen yang berbelit-belit, koordinasi antar pusat dan daerah yang tidak selaras (khususnya jika kita berdomisili di daerah), infrastruktur jalan maupun pelabuhan yang tidak menunjang kelancaran ekspor, regulasi yang sering berubah-ubah atau tumpang tindih antar instansi, dukungan perbankan yang tidak menyeluruh perihal asuransi ekspor dan kredit ekspor, belum lagi biaya siluman yang mesti dikeluarkan jika kita mau menjaga komitmen khususnya soal waktu pengiriman (bisa cepat tapi perlu tanggap), dan lain-lain

Oleh : UD Sudarno Mebel (Produsen Mebel Kreatif dan Inovatif )

 

Konsultasi Gratis Seputar Ekspor Impor

 

Bagaimana Menjadi Eksportir Bidang Perikanan

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain. Proses ini seringkali digunakan oleh perusahaan dengan skala bisnis kecil sampai menengah sebagai strategi utama untuk bersaing di tingkat internasional. Strategi ekspor digunakan karena risiko lebih rendah, modal lebih kecil dan lebih mudah bila dibandingkan dengan strategi lainnya.

Perdagangan Bebas

Adalah Sebuah Konsep Ekonomi Penjualan Produk Antar Negara Tanpa Pajak  Ekspor-Impor atau Hambatan Perdagangan Lainnya. Perdagangan Bebas dapat juga di definisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (Hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di Negara merdeka.

Ketentuan Menjadi Eksportir

Untuk Menjadi sebuah Perusahaan Ekspor harus memenuhi kebutuhan sebagai berikut :

  1. Badan Hukum Dalam Bentuk :
  • CV (Commanditaire Vennotschap)
  • PT (Perseroan Terbatas)
  1. Memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan menjadi PKP (Pengusaha Kena Pajak)
  2. Mempunyai izin yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti:
  • Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dari dinas perdagangan (NON PRODUSEN)
  • Surat Izin Industri dari Dinas Perindustrian (PRODUSEN)
  • Nomor Induk Kepabeanan (NIK)

Persyaratan Perusahan Menjadi Eksportir

Ada 4 Persyaratan yang harus dimiliki Perusahaan untuk bisa melaksanakan kegiatan ekspor.

  • Sarana dan Prasarana tempat pengolahan yang sesuai ketentuan
  • Sumber Daya Manusia
  • Tertib Administrasi
  • Kelayakan Produk

Sarana dan Prasarana Tempat Pengolahan

  • Bangunan tempat pengolahan, Peralatan yang digunakan untuk kegiatan Produksi, Ada beberapa standarisasi atas Sarana dan Prasarana yaitu (SKP dan HCCP)
  • GMP (Good Manufacturing Practice) yaitu cara atau teknik berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan produk yang benar memenuhi persyaratan mutu dan hasil keamanan pangan.
  • Pengertian Penangan dan Pengolahan

“Penanganan” Perlakuan terhadap ikan dengan tidak merubah karateristik Organoleptik, dan tidak merubah komponen kimiawi akibat perlakuan tersebut.

“Pengolahan” Perlakuan terhadap ikan sehingga berubah bentuk dari segi fisik maupun unsure kimiawi di dalamnya dengan penerapan teknologi (Suhu, Asam/Basa, Garam, dll.)

Dalam Konteks “PROCESSING” Merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Prinsip, Ruang Lingkup, Tujuan, Philosofi

  • “PRINSIP DASAR” Cepat, Cermat, Bersih, Dingin
  • “RUANG LINGKUP” Pra-Panen, Panen, Transportasi/Distribusi, UPI, Distribusi/Pemasaran
  • “TUJUAN” Mendapatkan produk hasil perikanan yang memenuhi persyaratan/standar mutu dan jaminan keamanan pangan.
  • “PHILOSOFI” Hanya dari bahan baku yang bermutu baik, diolah dengan cara dan dilingkungan yang baik, akan mendapatkan produk akhir yang baik (Standar Mutu dan Jaminan Keamanan Pangan)

Kebutuhan Sumber Daya Manusia dengan Beberapa Keahlian

  • PRODUKSI meliputi kemampuan membuat produk dan mengawasi mutu produk.
  • ADMINISTRASI Meliputi kemampuanadministrasi keuangan, akuntansi, Personalia, (HUKUM) dan Perpajakan.
  • MARKETING Meliputi kemampuan menjual produk, bernegosiasi, dengan pembeli dan pengurusan dokumen ekspor

Kelayakan Produk

Seberapa besar produk punya potensi pasar dan diminati pembeli dari luar Negeri, Produk yang selama ini penjualannya bisa masuk di Hotel Hotel, tidak menutup kemungkinan bisa ditawarkan pada pasar luar negeri.

Mencari Pembeli (BUYER)

Pelaku Ekspor bisa menggunakan beberapa cara untuk bisa menawarkan produk dengan menggunakan website yang gratis:

Komunikasi dengan Pembeli

Untuk dapat berkomunikasi dengan pembeli/calon pembeli dapat menggunakan media telekomunikasi lewat sambungan internet:

  • Skype
  • Google talk
  • WhatsApp
  • Line
  • Dll

Dokumen Ekspor

Dokumen Ekspor dibedakan menjadi 2 Sumber

  • INTERNAL
  • Proforma Invoice
  • Commercial Invoice
  • Packing List
  • Beneficiary Certificate
  • Certificate of Product
  • Letter of Guarantee
  • Draft
  • RTE (Rincian Transaksi Ekspor) (Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/20/PBI/2011
  • Eksternal
  • Dinas Perikanan (LPPMHP) : Healt Certificate
  • Dinas Perdagangan : SKA (Surat Keterangan Asal atau COO (Certificate Of Origin)
  • Perusahaan pelayaran : Bill of Leading
  • Bea Cukai Pelabuan (Bandara) PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang, NPE (Nota Persetujuan Ekspor)
  • Lembaga lainnya : Asuransi Cover Asuransi (Polis) dan Certificate Of Inspection (BECJERIND0, SUCOFINDO)
Konsultasi Gratis Seputar Ekspor Impor

Mengapa Ekspor

Faktor-faktor yang dapat mendorong produsen atau pelaku usaha melakukan kegiatan ekspor antara lain:

1. Komoditas Tradisional

Biasanya sebuah perusahaan memproduksi suatu komoditas sebagai lanjutan atau sisa-sisa peninggalan ekonomi jaman kolonial seperti karet, kopi, teh, lada, tengkawang, timah, tembaga dan hasil tambang sejenis lainnya. Hal ini kemungkinan berlanjut menjadi kegiatan ekspor sekarang ini

2. Optimalisasi Laba

Selain menjual suatu produk dalam negeri, dengan ekspor, sebuah perusahaan mampu memperluas daerah penjualan sampai ke luar negeri, selain itu jenis barang yang ditawarkan menjadi tidak terbatas untuk konsumen dalam negeri saja

3. Penelusuran Pasar

Bagi perusahaan yang mempunyai pasar domestik yang kuat, ekspor merupakan peluang untuk melakukan diversifikasi pasar yang dapat memperkuat kedudukan komoditas yang diperdagangkan

4. Pemanfaatan kelebihan kapasitas (Excess Capacity)

Jika kapasitas produksi suatu industri masih belum melebih kapasitas mesin maka sisa kapasitasnya (idle capacity) dapat digunakan untuk memenuhi pasar ekspor

5. Export Oriented Products

Terdapat industri-industri padat karya yang sengaja dipindahkan dari Negara-negara industri seperti Jepang, Korea, Taiwan atau Singapura ke Indonesia dengan tujuan relokasi industri pabrik sepatu, garment, dan sejenisnya

6. Wisma Dagang atau Trading House

Saat ini Pemerintah mengembangkan konsep trading house, seperti yang dikembangkan Jepang, sehingga akan memudahkan eksportir dalam melakukan penetrasi pasar Internasional. Trading House ini akan membantu eksportir menganalisis pasar atau mengidentifikasi Pembeli dan memberikan informasi lainnya yang bermanfaat terkait dengan kondisi pasar di Negara di mana wisma tersebut berada

7. Komoditas Berdaya Saing Tinggi

Produk-produk yang berbahan asli Indonesia dan mempunyai keunggulan tersendiri (absolute advantage) atau produk lain yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) memiliki peluang untuk pasar ekspor. Misalnya bahan-bahan seperti karet alam, kayu hutan tropis, agrobisnis, kerajinan dan lainnya, semua memiliki daya saing yang cukup tinggi di pasar ekspor

Sumber: djpen.kemendag.go.id

Tips dan Trik Tahapan Dalam Bisnis Ekspor

Untuk memasuki sebuah pasar ekspor harus diperhatikan tahapan bisnis ekspor dan Persyaratan Masuk Pasar Ekspor (PMPE).

Tahapan bisnis ekspor

Untuk dapat menentukan Negara Tujuan Ekspor (NTE) yang cocok bagi sebuah produk ekspor diperlukan analisis terlebih dahulu, sehingga Eksportir dapat menghindari kerugian yang mungkin timbul dari ketidaksesuai strategi ekspor. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan Negara tujuan ekspor beserta strateginya.

  1. Eksportir menentukan barang yang akan diekspor dan Negara Tujuan Ekspor
  2. Eksportir melakukan riset dan kajian pasar, kajian pasar dapat dilakukan dengan menggunakan literatur yang tersedia, kemudian analisis dapat dilakukan dengan menggunakan SWOT Analysis, yaitu metode berupa matriks yang membandingkan kelemahan, kelebihan , peluang dan hambatan yang muncul dari kombinasi produk ekspor dengan Negara tujuan ekspor
  3. Setelah melakukan kajian maka akan keluar sebuah kombinasi product-market yang dianggap cocok oleh Eksportir
  4. Karena sudah diketahui pasar mana yang akan dituju tahapan berikutnya adalah menentukan strategi ekspor. Strategi ekspor ini harus memerhatikan:
    • Segmen pasar di NTE
    • Produk yang akan dipasarkan
    • Identitas
    • Harga
    • Distribusi
    • Promosi
    • Mitra Dagang
  5. Dengan strategi ekspor ini maka Eksportir akan lebih mudah menentukan rencana bisnis, yang meliputi jadwal kegiatan, rencana keuangan  (cash flow, profit & loss)
  6. Setelah cukup terarah selanjutnya Eksportir dapat mulai menentukan bagaimana prosedur bisnis ekspor yang memungkinkan, prosedur bisnis ekspor ini meliputi pembiayaan ekspor, prosedur ekspor dan pembayaran ekspor
  7. Apabila strategi ini dirasakan masih kurang menguntungkan maka Eksportir dapat meninjau ulang di mana letak kesalahannya, dengan begitu penentuan strategi ekspor pun akan semakin optimal sehingga akan meminimalisir kerugian finansial

Apabila Negara Tujuan Ekspor ini telah pasti selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Persyaratan Masuk Pasar Ekspor (PMPE) yang terdiri dari:

  • Bea masuk dan kuota
  • Persyaratan berdasar UU NTE
  • Persyaratan di luar NTE
  • Persyaratan khusus dari pembeli

Dengan melakukan analisis terlebih dahulu terhadap produk yang ditawarkan beserta negara tujuan ekspor diharapkan dapat memperkuat proses perencanaan eksportir baik dalah hal perencanaan keuangan maupun perencanaan pemasaran, sehingga eksportir dapat terhindar dari biaya-biaya yang tidak diperlukan.

Sumber : djpen.kemendag.go.id

Larangan Ekspor

Menurut peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor: 01/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007. Disebutkan bahwa barang-barang ekspor diklasifikasikan menjadi empat kelompok, yaitu:

a.     Jenis barang yang diatur tata niaga ekspornya

Jenis barang ini hanya dapat diekspor oleh eksportir terdaftar saja. Sedangkan eksportir terdaftar adalah perusahaan atau perorangan yang telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Perdagangan untuk mengekspor barang tertentu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Suatu barang yang diatur ekspornya karena pertimbangan :

  1. Meningkatkan devisa dan daya saing
  2. Terikat dengan perjanjian internasional
  3. Kelestarian alam
  4. Tersedianya bahan baku

Barang Diatur ekspornya ini meliputi  :

  • Produk Perkebunan : kopi digongsang / tidak digongsang, olahan
  • Produk Kehutanan           :  produk dari rotan ataupun kayu
  • Produk Industri           :  asetat anhidrida, asam fenilasetat, efedrin, aseton, butanol
  • Produk Pertambangan           :  intan, timah, emas

b.     Jenis barang yang diawasi ekspornya

Barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan oleh eksportir yang telah mendapatkan persetujuan ekspor dari Kementerian Perdagangan atau Pejabat yang ditunjuk.

Barang yang diawasi ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dilakukan oleh eksportir yang telah mendapat persetujuan ekspor dari Menteri Perdagangan atau pejabat yang ditunjuk  (eksportir khusus).

Suatu barang diawasi ekspornya karena pertimbangan untuk menjaga keseimbangan pasokan di dalam negeri agar tidak mengganggu konsumsi dalam negeri.

Barang Diawasi ekspornya ini meliputi:

  • Produk Peternakan : bibit sapi, sapi bukan bibit, kerbau, kulit Buaya, wet blue, binatang liar dan tumbuhan (appendix II cites)
  • Produk Perikanan : ikan napoleon, wirasse, benih ikan bandeng
  • Produk Perkebunan : inti kelapa sawit (palm kernel)
  • Produk Pertambangan : gas, kokas/minyak petroleum, bijih logam Mulia, perak, emas,
  • Produk industri : sisa dan scrap dari besi, baja steinless, tembaga, kuningan, aluminium, pupuk urea

c.     Jenis barang yang dilarang ekspornya

Suatu barang yang dilarang ekspornya karena pertimbangan :

  1. Menjaga kelestarian alam
  2. Tidak memenuhi standar mutu
  3. Menjamin kebutuhan bahan baku bagi industri kecil atau pengrajin
  4. Peningkatan nilai tambah
  5. Merupakan barang bernilai sejarah dan budaya

Barang Dilarang ekspornya ini meliputi:

  • Produk Pertanian: anak ikan dan ikan  arwana, benih ikan sidat, ikan hias botia, udang galah ukuran 8 cm dan udang panaedae
  • Produk Kehutanan: kayu bulat, bahan baku serpih, bantalan kereta api atau trem dari  kayu dan kayu gergajian
  • Produk Kelautan: pasir laut
  • Produk Pertambangan: bijih timah dan konsentratnya, abu dan residu yang mengandung arsenik, logam atau senyawanya dan lainnya, terutama yang mengandung timah dan batu mulia

d.     Jenis barang yang bebas

Semua jenis barang yang tidak tercantum dalam peraturan di atas dikategorikan sebagai barang bebas ekspor, namun tentunya eksportir harus memenuhi persyaratan sebagai eksportir terlebih dahulu.

sumber: djpen.kemendag.go.id

Metode Pembayaran Dalam Proses Ekspor Impor

Beberapa metode pembayaran yang bisa digunakan dalam proses ekspor impor adalah sebagai berikut:

Metode Pembayaran

Metode

Deskripsi

Resiko/Keuntungan

Eksportir

Importir

Advance Payment Cash with order, pembayaran langsung kepada eksportir sebelum barang yang dipesan dikirim Menarik bagi Eksportir karena menerima pembayaran terlebih dahulu
  • Resiko gagal atau terlambatnya pengiriman barang
  • Resiko kualitas dan jumlah barang yang tidak sesuai
Open Account Barang dikirim terlebih dahulu oleh eksportir dan pembayaran dilakukan setelah importir menerima barang tersebut Resiko terlambat pembayaran atau tidak dibayar Menarik bagi Importir karena menerima barang terlebih dahulu
Consignment Pengiriman barang kepada perantara (importir) yang akan menjual barang tersebut kepada final buyer, kepemilikan barang tetap milik eksportir sampai barang tersebut terjual Kemungkinan gagal pembayaran atau pembayaran terlambat, karena barang belum tentu terjual Menguntungkan Importir karena dapat menjual barang tanpa membayar terlebih dahulu
Collection Document againts payment (D/P) Eksportir mengirimkan barang ke port tujuan sedangkan dokumen pengiriman barang dikirimkan ke pihak Bank sebagai perantara. Importir dapat mengambil dokumen tersebut jika sudah melakukan pembayaran melalui Bank, dokumen ini diperlukan importir untuk mengambil barang di port Tidak ada jaminan pembayaran dari Bank kepada Eksportir, karena Bank hanya berperan sebatas pelayanan jasa saja Terdapat resiko barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan permintaan
Document againts acceptance (D/A) Hampir sama dengan Document againts payment, perbedaannya adalah metode ini memerlukan akseptasi pembayaran terlebih dahulu oleh importir agar importir dapat menerima dokumen pembayaran dari Bank. Akseptasi pembayaran ini merupakan janji pembayaran pada tanggal tertentu, biasanya 30, 60 atau 90 hari setelah akseptasi Tidak ada jaminan pembayaran dari Bank kepada Eksportir, karena Bank hanya berperan sebatas pelayanan jasa saja Terdapat resiko barang yang dikirimkan tidak sesuai dengan  permintaan
Letter of Credit (L/C) Jaminan yang diterbitkan oleh issuing Bank atas perintah applicant (Buyer) kepada eksportir agar Importir melakukan pembayaran sejumlah tertentu Jaminan pembayaran dari Bank selama dokumen yang dikirimkan sesuai dengan L/C Jaminan memperoleh barang sesuai dengan yang disepakati

sumber : djpen.kemendag.go.id

 

Istilah Dalam Kegiatan Ekspor

Kumpulan istilah-istilah dalam kegiatan ekspor beserta definisinya

ISTILAH

Deskripsi/Definisi

Advance Payment

Metode pembayaran dengan pembayaran cash terhadap eksportir terlebih dahulu

Advising Bank

Pihak yang diminta oleh issuing Bank untuk menyampaikan L/C langsung atau melalui Bank lain kepada Beneficiary

Applicant

Pihak yang mengajukan aplikasi pembukaan L/C kepada issuing Bank

Bill of Exchange

Surat perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang yang disebut namanya atau kepada orang yang ditunjuknya pada tanggal pembayaran; agar supaya surat perintah itu berlaku sebagai surat wesel, maka isinya harus memuat syarat-syarat yang ditetapkan dalam undang-undang antara lain memuat perkataan “Surat Wesel”

Bill of Lading

Bukti terima dari shipping agent

Clean collection

Dokumen dasar penagihan yang hanya dari financial document saja

Commercial document

dokumen seperti Bil of Lading, Invoice, packing list, SKA dan lain lain

Document against payment (D/P)

Bank Penagih menyerahkan dokumen kepada importer setelah importir melakukan pembayaran penuh

 

Document against acceptance (D/A)

Bank penagih diperbolehkan untuk mengirimkan dokumen setelah importer menyetujui (akseptasi) Bill of exchange atau wesel yang disetujui dalam jangka waktu tertentu (biasanya 30, 60, 90 atau 180 hari dari akseptasi)

Document against payment (D/P)

Bank Penagih menyerahkan dokumen kepada importer setelah importir melakukan pembayaran penuh

Documentary collection

Dokumen penagihan yang berdasarkan commercial document saja atau financial document ditambah commercial document

EMKL

Ekspedisi muatan kapal laut

Financial document

Dokumen keuangan yang memiliki nilai nominal seperti wesel atau bill of exchange

Harga Dasar (HD)

adalah tingkat harga ekspor tertinggi yang tidak terkena Pajak Ekspor

Harga Ekspor (HE)

adalah harga yang ditetapkan Menteri Keuangan setiap akhir bulan berdasarkan harga rata-rata di pasar internasional 2 (dua) minggu terakhir berupa harga FOB untuk menghitung Pajak Ekspor terhadap barang

 

Harga Patokan Ekspor (HPE)

adalah harga yang ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk menghitung Pajak Ekspor yang menggunakan tarip ad valorem terhadap barang

 

Incoterm

International Commercial Terms adalah istilah-istilah (seperangkat kode tiga huruf) yang digunakan dalam perdagangan internasional untuk mengatur agar tidak terjadi kesalahan interpretasi dalam pembuatan kontrak

Issuing Bank

Pihak yang menerbitkan L/C atas dasar permintaan applicant

Konsinyasi/Consignment

Metode pembayaran dalam ekspor yang menggunakan Importir sebagai perantara/penjual yang akan menjual barang ekspor tersebut kepada final Buyer

 

Pengiriman barang terlebih dahulu kepada importer sebagai perantara antara eksportir atau produsen dengan final buyer

L/C Advice

 

L/C Usance

L/C yang pencairannya dilakukan setelah ada penyerahan dokumen yang lengkap kepada negotiating bank

L/C Insight

L/C yang pencairannya tidak dilakukan langsung setelah ada penyerahan dokumen, namun setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan akseptasi jangka waktu tertentu

Letter of Inquiry

Surat permintaan suatu komoditas tertentu dari Importir

Negotiating Bank

Bank yang diberi kuasa oleh issuing Bank untuk melakukan negosiasi (mengambil alih L/C)

Open Account

Mengirim barang telebih dahulu kepada importir, pembayaran akan barang ekspor dilakukan setelah barang diterima oleh importer

Offer sheet

Surat penawaran dari supplier

Order Sheet

Surat pemesanan barang tertentu yang dikirimkan Importir

Purchase order

Dokumen yang dikeluarkan oleh buyer atau seller yang menunjukkan pembelian jenis barang sejumlah tertentu beserta keterangan lainnya

Sumber : djpen.kemendag.go.id

Empat Tahapan Utama Dalam Ekspor

1.     Sales Contract Process

Sales contract adalah dokumen/surat persetujuan antara penjual dan pembeli yang merupakan follow-up dari purchase order yang diminta importer. Isinya mengenai syarat-syarat pembayaran barang yang akan dijual, seperti harga, mutu, jumlah, cara pengangkutan, pembayaran asuransi dan sebagainya. Kontrak ini merupakan dasar bagi pembeli untuk mengisi aplikasi pembukaan L/C kepada Bank.

Proses Pembuatan Sales Contract

a. Promosi

Kegiatan promosi komoditas yang akan diekspor melalui media promosi seperti iklan di media elektronik, majalah, Koran, pameran dagang atau melalui badan/lembaga yang berhubungan dengan kegiatan promosi ekspor seperti Ditjen PEN, Kamar Dagang dan Industri, Atase perdagangan dan lain sebagainya

b. Inquiry

Pengiriman surat permintaan suatu komoditas tertentu oleh Importir kepada eksportir (letter of inquiry). Biasanya berisi deskripsi barang, mutu, harga dan waktu pengiriman

c. Offer Sheet

Permintaan Importir akan ditanggapi melalui offer sheet yang dikirimkan eksportir. Offer sheet ini berisikan keterangan sesuai permintaan Importir mengenai deskripsi barang, mutu, harga dan waktu pengiriman. Selain itu pada offer sheet ini biasanya ditambahkan tentang ketentuan pembayaran dan pengiriman sample/brochure

d. Order Sheet

Setelah mendapatkan penawaran dari eksportir dan mempelajarinya, jika setuju maka Importir akan mengirimkan surat pesanan dalam bentuk order sheet (purchase order) kepada eksportir

e. Sale’s Contract

Sesuai dengan data dari order sheet maka selanjutnya eksportir akan menyiapkan surat kontrak jual beli (sale’s contract) yang ditambah dengan keterangan force majeur clause  dan inspection clause. Sales contract ini ditandatangani oleh eksportir dan dikirimkan sebanyak dua rangkap kepada Importir

f. Sale’s Confirmation

Sales contract akan dipelajari oleh Importir, apabila Importir setuju maka sales contract tersebut akan ditandatangi oleh Importir untuk kemudian dikembalikan kepada eksportir sebagai sales confirmation. Sedangkan satu copy lain dari sales contract ini akan disimpan oleh Importir

Dokumen yang diperlukan dalam Sales Contract

2. L/C Opening Process

Letter of credit  (L/C) adalah Jaminan dari bank penerbit kepada eksportir sesuai dengan instruksi dari importer untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu dengan jangka waktu tertentu atas dasar penyerahan dokumen yang diminta importer

L/C Opening Process

Proses pembukaan L/C tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Importir akan meminta Opening Bank (Bank Devisa) untuk membuka Letter of Credit sebagai jaminan dan dana yanga akan digunakan untuk melakukan pembayaran kepada Eksportir sesuai dengan kesepakatan pada sales contract. L/C yang dibuka adalah untuk dan atas nama eksportir atau orang atau badan lain yang ditunjuk eksportir sesuai dengan syarat pembayaran pada sales contract
  2. Opening bank akan melakukan pembukaan L/C melalui bank korespondennya di Negara Eksportir, dalam hal ini adalah advising Bank. Proses pembukaan L/C ini dilakukan melalui media elektronik, sedangkan penegasan dalam bentuk tertulisnya akan dituangkan dalam L/C confirmation yang diteruskan dari opening Bank kepada advising Bank untuk disampaikan kepada Eksportir
  3. Advising Bank akan memeriksa keabsahan pembukaan L/C dari opening Bank, dan apabila sesuai advising Bank akan mengirimkan surat pengantar (L/C advice) kepada Eksportir yang berhak menerima. Jika advising Bank diminta juga oleh opening Bank untuk menjamin pembayaran atas L/C tersebut, maka advising Bank disebut juga sebagai confirming Bank

3. Cargo Shipment Process

Output penting dari proses ini adalah dokumen pengapalan yang merupakan bukti bahwa eksportir telah mengirimkan barang yang dipesan Importir sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam L/C.

Cargo Shipment Process

Tahapan cargo shipment process adalah sebagai berikut:

  1. Eksportir akan menerima L/C advice sebagai acuan untuk mengirimkan barang dan saat ini eksportir akan melakukan shipment booking kepada shipping company sesuai dengan term yang disebutkan dalam sales contract. Setelah itu eksportir harus mengurus kewajiban Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) di Bea Cukai di pelabuhan muat. Serta hal lain seperti pembayaran pajak ekspor (PE) dan Pajak Ekspor Tambahan (PET) di advising Bank
  2. Shipping Company akan memuat barang dan menyerahkan bukti penerimaan barang, kontrak angkutan, bukti kepemilikan barang (bill of lading) serta dokumen pengapalan lainnya jika ada kepada eksportir, kemudian eksportir akan mengirimkannya kepada advising Bank untuk dikirimkan ke opening Bank
  3. Shipping Company akan mengangkut barang tersebut ke pelabuhan tujuan yang disebutkan dalam Bill of Lading (B/L)
  4. Importir akan menerima dokumen pengapalan jika kewajiban pembayaran kepada opening Bank sudah dilakukan. Selanjutnya dokumen pengapalan ini digunakan untuk mengurus import clearance dengan pihak bea cukai di pelabuhan dan untuk mengambil muatan di shipping Company yang memuat barang yang dipesan
  5. Shipping Agent akan menyerahkan barang kepada Importir jika biaya jasa shipping agent telah dilunasi

 

4. Shipping Document Negotiation Process

Proses ini adalah proses penguangan dokumen pengapalan bagi eksportir dan merupakan proses untuk claim barang yang telah dibayar bagi Importir

Shipping Document Negotiation Process

  1. Setelah menerima B/L dari shipping Company, Eksportir akan menyiapkan semua keperluan dokumen lain yang diisyaratkan dalam L/C seperti Invoice, packing list, sertifikasi mutu, Surat Keterangan Negara Asal (SKA) dan lain sebagainya. Semua dokumen tersebut akan diserahkan kepada negotiating Bank, dalam hal ini advising Bank, yang ditentukan dalam L/C untuk memeroleh pembayaran atas L/C
  2. Negotiating Bank akan memeriksa kelengkapan dan keakuratan dokumen pengapalan yang dikirimkan eksportir, jika cocok dengan yang diisyaratkan L/C maka negotiating Bank akan melakukan pembayaran sesuai tagihan eksportir dari dana L/C yang tersedia
  3. Negotiating Bank akan mengirimkan dokumen pengapalan kepada opening Bank untuk mendapatkan reimbursement atas pembayaran yang dia lakukan kepada Eksportir
  4. Opening Bank, akan memeriksa kelengkapan dan keakuratan dokumen pengapalan, jika cocok dengan yang diisyaratkan L/C maka opening Bank akan memberikan pelunasan pembayaran (reimbursement) kepada negotiating Bank
  5. Opening Bank selanjutnya memberitahukan penerimaan dokumen pengapalan kepada Importir. Importir akan menyelesaikan pelunasan dokumen itu untuk mendapatkan dokumen pengapalan yang berfungsi untuk mengambil barang pesanan dari shipping agent dan bea cukai setempat

Sumber : djpen.kemendag.go.id

Syarat Menjadi Eksportir

Untuk menjadi sebuah Perusahaan ekspor harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Badan Hukum, dalam bentuk :
    1. CV (Commanditaire Vennotschap)
    2. Firma
    3. PT (Perseroan Terbatas)
    4. Persero (Perusahaan Perseroan)
    5. Perum (Perusahaan Umum)
    6. Perjan (Perusahaan Jawatan)
    7. Koperasi

2.   Memiliki NPWP (Nomor Wajib Pajak)

3. Mempunyai salah satu izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah seperti:

  • Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dari Dinas Perdagangan
  • Surat Izin Industri dari Dinas Perindustrian
  • Izin Usaha Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) atau Penanaman Modal Asing (PMA) yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Eksportir ini dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Eksportir Produsen, dengan syarat:

  • Sebagai Eksportir Produsen dalam upaya memperoleh legalitasnya seyogyanya memenuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu mengisi formulir isian yang disediakan oleh Dinas Perindag di Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota atau Propinsi, dan Instansi teknis yang terkait.
  • Memiliki Izin Usaha Industri
  • Memiliki NPWP
  • Memberikan Laporan realisasi ekspor kepada Dinas Perindag atau instansi dan pejabat yang ditunjuk (secara berkala setiap tiga bulan) yang disyahkan oleh Bank Devisa dengan melampirkan surat pernyataan seperti: tidak terlibat tunggakan pajak, tidak terlibat tunggakan perbankan, tidak terlibat masalah kepabeanan.

b. Eksportir Bukan Produsen, dengan syarat:

  • Sebagai Eksportir bukan Produsen untuk memperoleh legalitas seyogyanya memenuhi persyaratan yang ditetapkan, yaitu mengisi formulir isian yang disediakan oleh Dinas Perindag di Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota atau Propinsi dan Instansi teknis yang terkait
  • Memiliki Surat Izin Usaha  Perdagangan
  • Memiliki NPWP

Memberikan Laporan realisasi ekspor kepada Dinas Perindag atau instansi/pejabat yang ditunjuk (setiap tiga bulan) yang disyahkan oleh Bank Devisa dengan melampirkan surat pernyataan seperti tidak terlibat tunggakan pajak, tidak terlibat tunggakan perbankan, tidak terlibat masalah kepabeanan

Sumber : djpen.kemendag.go.id